Thought

Di antara keburukan dan kebaikan

Mungkin kita harus berterimakasih kepada orang-orang yang telah melakukan keburukan terhadap kita, ketika suatu saat nanti keburukan tersebut menyebabkan perbaikan yang luar biasa terhadap diri kita.

Keburukan adalah awal perbaikan, begitu pula sebaliknya, kebaikan adalah awal pemburukkan.

Ketika kebaikan kita dapatkan, potensi untuk melakukan hal buruk mulai nampak, ketika kita sehat, mulailah muncul potensi makan seenaknya, begadang seenaknya, dan itu perilaku yang berpotensi untuk mendapatkan penyakit.

Ketika kita sakit, barulah kita memulai lagi habit hidup sehat, makan teratur, istirahat cukup, makan makanan yang bergizi.

Ketika kita disakiti seseorang, barulah kita memulai logika berfikir bahwa kenapa orang tersebut bisa-bisa nya menyakiti perasaan kita, mencari tahu apa salah kita, apa yang salah dengan sikap dan perilaku kita sehingga dia menyakiti kita. Habit untuk intropeksi diri, berfikir, mawas diri, mencari hikmah, baru kita mulai ketika kita tersakiti dan menderita.

Ketika kita dipuji seseorang, habit negatif akan mulai muncul, kesombongan, percaya diri yang terlalu berlebihan, merendahkan orang lain, akan berpotensi muncul.

Ketika kita mengalami kesulitan keuangan, habit positif akan muncul, kita mulai berhemat dan memilah pengeluaran yang perlu dan tidak perlu, kita mulai berfikir menabung, ataupun bekerja lebih giat lagi untuk mendapatkan pendapatan tambahan, kita mulai bersilaturahmi menjalin hubungan baik dengan teman-teman kita untuk mencari potensi-potensi rejeki baru.

Ketika kita kaya raya, habit negatif akan berpotensi muncul, kita menjadi konsumtif, sombong, malas berusaha dan bekerja.

jadi, sudah sewajarnya kita sadar untuk berterimakasih kepada apapun dan siapapun yang menyebabkan kita memulai perilaku maupun keadaan yang lebih baik meskipun kita harus melalui rasa sakit terlebih dahulu. Ikhlas berterimakasih akan menambah kekuatan diri kita sendiri, bukanlah menambah kekuatan bagi mereka yang gemar menyakiti dan menyebabkan penderitaan orang lain.

jazz versus orchestra

Dalam sebuah pagelaran musik jazz, kita bisa lihat sekumpulan musisi-musisi yang dengan egonya masing-masing memainkan alat musik sesuka hatinya, kadang matanya merem-merem, melihat kesana kemari, namun menghasilkan sebuah harmonisasi yang indah dan enak didengar telinga, tidak ada yang memberikan arahan2 atau patokan2 bahwa siapa harus memainkan apa, bisa jadi sewaktu-waktu semua pemain diam, kecuali bassist, memberikan kesempatan sang bassist untuk menunjukkan kebolehannya sementara rekan-rekannya melihat dan menikmati kebolehan sang bassist beraksi. More >

Hati Versus Ego

hati senang memahami, ego gemar memperdebatkan

hati senang menyatukan, ego gemar memisahkan

hati senang memaafkan, ego gemar mempermasalahkan

hati senang merasa cukup, ego gemar merasa kurang

hati senang merasa setara, ego suka terlihat lebih tinggi atau rendah

hati senang kebersamaan, ego suka menajamkan perbedaan

hati senang berhati-hati, ego suka tergesa-gesa

hati senang “mengalah untuk menang”, ego suka “yang penting menang”

hati senang berserah diri, ego suka caranya sendiri

antara chemistry dan tukang becak

chemistry –> idea –> energy –> passion —> hard work –> goal!

tukang becak, rela dan kuat bekerja dari pagi sampe malem menarik becak, nunggu penumpang sekian lamanya,  gak mikirin dirinya sendiri, badan capek, perut lapar pun dia LAWAN demi kebahagiaan anak istrinya.

dia mampu bertahan hidup dengan chemistry yg dia pelihara, keterpautan bathin yang luar biasa besarnya antara dia dan keluarganya, sungguh mengagungkan dan luar biasa energinya !

dia mendengar, merasakan, melihat, nasib anak2nya, pemimpin bersahaja yang memberikan teladan bagi anak2nya bagaimana memperjuangkan sebuah kehidupan

Terima kasih Tukang Becak!

your actions inspiring me to dream more,learn more, do more,n become more, and you are The Real Leader!

Sekelumit tentang “rasa”

ketika ingin menuju sebuah tujuan, namun di tengah-tengah jalan tiba-tiba kita dihadapkan dengan jalan buntu atau jalan yang salah, ataupun jalan yang ga kita sukai, seringkali terasa sakit hati, kecewa, putus asa menerima kenyataan tersebut. Kenapa?

Sakit itu muncul akibat perasaan/ego yang dominan berbicara, akan beda ceritanya ketika pikiran yang dominan,  tujuan itu masih ada dan masih amat sangat bisa dicapai dengan jalan lain. kegagalan dimasa lalu di jadikan pelajaran.

Memang ga mudah untuk mengendalikan ego ataupun perasaan… itulah job desc iblis diturunkan ke muka bumi ini.

Pas kapan hari naek motor “honda mbrebet” gue,  di kepala gue bersliweran tentang kata “pengendalian rasa”, rasa itu jangan dilawan, apalagi diremehkan, tapi dikendalikan.

gimana supaya bisa mengendalikan perasaan?  belajarlah seperti pada saat belajar mengendalikan sepeda motor atau mobil, kenali dulu, fahami dulu setiap fungsi2 komponen yang ada, dimana klakson, lampu, starter dan lainnya, setelah itu blajar ngebawa motor pelan-pelan (jangan langsung ngebut biar ga nyungsep hehe), awalnya pasti canggung, tp lama-lama pasti terbiasa dan ga pake mikir2,pada tingkatan tertentu, ’sense” yang bertindak. Motor sudah bisa kita kendalikan.

apa sampeyan pernah mikir  harus ngebut di kecepatan berapa dan kapan harus pindah gigi? semuanya terjadi dengan reflek kan?

analogi tadi bisa diterapkan dalam konteks pengendalian rasa. sekali lagi gue tuliskan, rasa jangan dilawan, apalagi diremehkan, tapi dikendalikan, dan jangan berlama-lama larut  di area rasa, karena hanya menghabiskan energi sia-sia saja dan memperlama pencapaian tujuan.

**tulisan ini didedikasikan untuk diri gue sendiri dan teman2ku yang sedang bermasalah dengan rasa**