Sekelumit tentang “rasa”

ketika ingin menuju sebuah tujuan, namun di tengah-tengah jalan tiba-tiba kita dihadapkan dengan jalan buntu atau jalan yang salah, ataupun jalan yang ga kita sukai, seringkali terasa sakit hati, kecewa, putus asa menerima kenyataan tersebut. Kenapa?

Sakit itu muncul akibat perasaan/ego yang dominan berbicara, akan beda ceritanya ketika pikiran yang dominan,  tujuan itu masih ada dan masih amat sangat bisa dicapai dengan jalan lain. kegagalan dimasa lalu di jadikan pelajaran.

Memang ga mudah untuk mengendalikan ego ataupun perasaan… itulah job desc iblis diturunkan ke muka bumi ini.

Pas kapan hari naek motor “honda mbrebet” gue,  di kepala gue bersliweran tentang kata “pengendalian rasa”, rasa itu jangan dilawan, apalagi diremehkan, tapi dikendalikan.

gimana supaya bisa mengendalikan perasaan?  belajarlah seperti pada saat belajar mengendalikan sepeda motor atau mobil, kenali dulu, fahami dulu setiap fungsi2 komponen yang ada, dimana klakson, lampu, starter dan lainnya, setelah itu blajar ngebawa motor pelan-pelan (jangan langsung ngebut biar ga nyungsep hehe), awalnya pasti canggung, tp lama-lama pasti terbiasa dan ga pake mikir2,pada tingkatan tertentu, ’sense” yang bertindak. Motor sudah bisa kita kendalikan.

apa sampeyan pernah mikir  harus ngebut di kecepatan berapa dan kapan harus pindah gigi? semuanya terjadi dengan reflek kan?

analogi tadi bisa diterapkan dalam konteks pengendalian rasa. sekali lagi gue tuliskan, rasa jangan dilawan, apalagi diremehkan, tapi dikendalikan, dan jangan berlama-lama larut  di area rasa, karena hanya menghabiskan energi sia-sia saja dan memperlama pencapaian tujuan.

**tulisan ini didedikasikan untuk diri gue sendiri dan teman2ku yang sedang bermasalah dengan rasa**